Remember This! "Dreams and Do it"

Rabu, 19 April 2017

Makalah Sosiologi Masalah sosial

Hello....

Makalah lagi nih...

sedikit cerita yaa...waktu ada mata kuliah sosiologi semester 1 saya ada tugas untuk buat makalah studi kasus per individu tentang masalah sosial. Saya pikir masalah sosial yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini adalah kemiskinan. 

Kenapa sih kemiskinan itu disebut masalah sosial?
Terdapat kasus apa saja memang kemiskinan di Indonesia?
Berikut penjabaran versi saya yang dibuat dalam makalah, selamat membaca!

Masalah Sosial Studi Kasus kemiskinan di Indonesia



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah
Dalam tatanan masyarakat, banyak sekali timbul perubahan, dan timbul juga masalah sosial, yang mengakibatkan perubahan terhadap nilai-nilai kemasyarakatan dianggap tidak sesuai lagi dengan tuntunan kehidupan. Masalah sosial pada dasarnya mengarahkan pada perhatian pada kondisi ketidakseimbangan perilaku, moral, dan nilai-nilai sosial.[1] Suatu kehidupan masyarakat yang sebelumnya normal menjadi terganggu, akibat dari perubahan pada unsur-unsur dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Variasi masalah sosial pun sangat beragam, Salah satu contoh masalah sosial dari segi ekonomi yaitu kemiskinan.
Pemerintah ikut andil dalam membenahi permasalahan kemiskinan di Indonesia yang terjadi. Fenomena masalah kemiskinan telah lazim terdengar dalam masyarakat, bukanlah fenomena yang baru di dalam kehidupan sosial. Hal ini terjadi karena adanya globalisasi ekonomi dan ketergantungan antar negara dapat memberikan tantangan dan kesempatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu negara dan juga memberikan resiko ketidakpastian perekonomian dunia. Bila diamati, seolah olah kemiskinan identik dan seperti selalu melekat di dalam struktur Negara dan menjadi masalah sosial yang cukup serius untuk mendapatkan penanganan dari penyelenggara Negara. Namun, telah banyak upaya yang dilakukan oleh penyelenggara Negara untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.
Indonesia Negara salah satunya. Bangsa Indonesia  sudah sejak lama memiliki problematika ini dalam pembangunan. Pemerintah mempunyai perhatian besar terhadap masalah ini, terbukti dari berbagai program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda menghilangnya kemiskinan. Persoalan tersebut bagaikan mengurai benang kusut yang sulit dicari penyelesaiannya. Maka dari itu, penulis tertarik untuk membuat makalah ini dengan judul “Masalah Kemiskinan di Indonesia”.

1.2.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimana gejala dan cara mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia?
2.      Bagaimana perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia?
3.      Apa sajakah kendala dan cara menanggulangi kemiskinan di Indonesia?
1.3.   Tujuan Penulisan
        Adapun tujuan dibuatnya makalah yang membahas tentang kemiskinan di Indonesia ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui batasan masalah tentang kemiskinan serta cara mengukur tingkat kemiskinan yang ada di Indonesia ini.
2.      Untuk mengetahui perkembangan tingkat kemiskinan di indonesia.
3.      Mengetahui kendala yang terdapat, dan upaya penanggulangan kemiskinan.





BAB II
KERANGKA TEORI


Penelitian ini bertujuan mengungkapkan masalah kemiskinan yang ada di Indonesia. Kemiskinan yang telah menjadi masalah multidimensi dan lintas sektor sehingga faktor saling berkaitan. Sebagai landasan kerja penelitian penulis mengklasifikasikan konsep-konsep sebagai berikut.
2.1.   Batasan Masalah kemiskinan
Kemiskinan lazimnya digambarkan sebagai gejala kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat-istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Menurut Kuncoro, (1997: 102-103), Mengemukakan bahwa kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan, salah satunya bagaimana ukuran dari standar hidup minimum tersebut. Di Indonesia, hal tersebut dapat terlihat dari Definisi kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2100 kalori per kapita per hari. BPS menyebutkan ada 14 kriteria suatu keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin, yaitu :
1)      Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang,
2)      Jenis lantai tempat tinggal terbat dari tanah / bambu / kayu murahan,
3)      Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok tanpa plester,
4)      Tidak mempunyai fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain,
5)      Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik,
6)      Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai / air hujan,
7)      Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah,
8)      Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam satu kali dalam seminggu,
9)      Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun,
10)  Hanya sanggup makan sebanyak satu kali/ dua kali dalam sehari,
11)  Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik,
12)  Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2 – buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000,00 per bulan (2005), - atau pendapatan per kapita Rp 166.697,00 per kapita per bulan (2007),
13)  Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD / hanya SD,
14)  Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500.000,00, seperti sepeda motor (kredit / non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.[2]
Michael P. Todaro (2004) mengemukakan kemiskinan absolut, yaitu sejumlah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Penduduk tersebut hidup di bawah tingkat pendapataan riil minimum tertentu atau di bawah garis kemiskinan internasional. Mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, dan keterampilan.
2)      Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.
3)      Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orangtua mencari tambahan penghasilan.
4)      Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas, berusaha apa saja.
5)      Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.[3]
Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara ternyata berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. Badan Pusat Statistik(BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan perkapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dengan acuan yang digunakan 2.100 kalori per hari. Garis kemiskinan lain yang paling dikenal ialah garis kemiskinan Sajogyo, yang dalam studi selama bertahun-tahun menggunakan suatu garis kemiskinan yang didasarkan atas harga beras. Sajogyo mendefinisikan batas garis kemiskinan sebagai tingkat konsumsi per kapita setahun yang sama dengan beras.[4]
2.2.    Sebab-Sebab kemiskinan
Permasalahan kemiskinan hingga saat ini ada karena terdapat faktor-faktor penyebab kemiskinan. Menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29) yaitu:
1)      pendidikan yang terlampau rendah
2)      Malas bekerja
3)      Keterbatasan sumber alam
4)      Terbatasnya lapangan kerja
5)      Keterbatasan modal
6)      Beban keluarga
Menurut Suryadiningrat dalam Dadan Hudayana (2009:30), juga mengemukakan bahwa kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya komitmen manusia terhadap norma dan nilai-nilai kebenaran agama, kejujuran dan keadilan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penganiyayaan manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya:
1)      Kesengganan bekerja dan berusaha
2)      Kebodohan
3)      Motivasi rendah
4)      Tidak memiliki rencana jangka panjang
5)      Budaya kemiskinan
6)      Pemahaman keliru terhadap kemiskinan.
Nasikun dalam Suryawati (2005:5), menyoroti beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu:
1)      Pelestarian proses kemiskinan, proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan anti kemiskina, tetapi realitanya justru melestarikan.
2)      Pola Produksi Kolonial
Negara ekskloni mengalami kemiskinan karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai skala besar dan berorientasi ekspor.
3)      Manajemen sumber daya alam dan lingkungan
Seperti manajemen pertanian asal tebang akan menurunkan produktivitas.
4)      Kemiskinan terjadi karena siklus alam
Misalnya, tinggal dilahan kriti, dimana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir tetapi jika kemarau kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.
5)      Peminggiran kaum perempuan
Perempuan masih dianggap kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
6)      Faktor budaya dan etnik
Bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan seperti, pola hidup yang konsumtif pada petani saat panen.

2.3.   Pemberdayaan masyarakat miskin
Dalam konteks istilah pemberdayaan yang dikemukakan oleh Blanchard yaitu upaya untuk menguraikan belenggu yang membelit masyarakat terutama yang berkaitan dengan pengetahuan, pengalaman, motivasi.[5] Forum Komunikasi Staf Ahli Menteri (FORKOMSAM) bidang Kesejahteraan Rakyat memberikan 4 rekomendasi penting dalam menyelesaikan problem kemiskinan di Indonesia. bahwa untuk menyelesaikan problem kemiskinan di Indonesia diperlukan 4 syarat penting. Yaitu leadership yang punya hati terhadap orang miskin, melibatkan orang miskin sebagai subyek permasalahan bukan obyek, jangan meninggalkan kultur mereka dan menyelesaikan problem kemiskinan jangan menggunakan pendekatan efisiensi.





BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Gejala dan Cara Mengukur Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Gejala kemiskinan dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, biasanya tumbuh juga berbagai nilai dan norma sosial yang baru, dan dapat mengakibatkan bergesernya ukuran-ukuran taraf kehidupan, yang kemudian menjadi suatu kelaziman bagi masyarakat. Ukuran kaya atau miskin dapat dilihat dari kemampuan nilai ekonomisnya. Faktor ekonomi dijadikan tolak ukur dalam menilai tingkat kemiskinan, hal itu sebagai bukti faktor ini banyak diperjuangkan oleh berbagai kalangan masyarakat.
Memahami gejala masalah kemiskinan seringkali diikuti dengan upaya untuk melakukan pendefinisian dan pengukuran. Dalam konsep ekonomi, studi masalah kemiskinan akan segera terkatit dengan konsep taraf hidup, pendapatan dan distribusi pendapatan. Sementara ilmuwan lain tidak ingin berhenti pada melainkan mengaitkannya dengan konsep kelas, stratifikasi sosial, dan bentuk-bentuk diferensiasi sosial yang lain. Konsep taraf hidup (Level of living) misalnya, tidak cukup dilihat dari sudut pendapatan, akan tetapi juga perlu melihat faktor pendidikan, kesehatan, perumahan dan kondisi sosial yang lain. Kenyataan tersebut mengakibatkan pendekatan yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan juga bervariasi.[6] konsep tingkat kemiskinan dapat diketahui dari
1.      Kemiskinan absolut adalah kemiskinan dimana orang-orang miskin memiliki tingkat pendapatan dibawah garis kemiskinan atau jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum. Kemiskinan absolute diukur dari satu set standar yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat/Negara. Sebuah contoh dari populasi yang mengonsumsi makanan di bawah jumlah cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira-kira 2000-2500 kalori perhari untuk laki-laki dewasa).
2.      Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara tingkat pendapatan dan tingkat pendapatan lainnya. Contoh, seseorang yang tergolong kaya (mampu) pada masyarakat desa tertentu bisa jadi yang termiskin pada masyarakat desa lain. Terdapat bentuk-bentuk kemiskinan yang sekaligus menjadi faktor penyebab kemiskinan (awal mula kemiskinan), yaitu :
a.       Kemiskinan natural adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang miskin. Disebabkan faktor alamiah seperti karena cacat, sakit, usia lanjut, atau karena bencana alam. Daerah seperti ini pada umumnya merupakan daerah yang kritis sumber daya alamnya atau daerah yang terisolasi.
b.      Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok, masyarakat yang disebabkan gaya hidup, kebiasaan hidup, dimana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan.
c.       Kemiskinan struktural disebabkan oleh faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi asset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu.[7]

Diantara dua kategori untuk mengetahui tingkat kemiskinan atau seberapa besar tingkat kemiskinan di suatu daerah di Indonesia, terdapat juga badan pusat statistik (BPS) yang bertugas menghitung presentase jumlah masyarakat miskin disuatu daerah. Untuk mengukur kemiskinan BPS menggunakan konsep pendekatan kebutuhan dasar. Membuat garis kemiskinan yang terdiri dari garis kemiskinan makanan, kebutuhan minimum makanan setara 2.100 kilo kalori per kapita per hari dan garis kemiskinan non makanan. Nilai mininum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, digabungkan menjadi garis kemiskinan. Hal ini dipakai sejak tahun 1998.[8] Contoh pengukuran terjadi pada BPS Karanganyar, Toto Deswanto, “Tingkat kemiskinan di Karanganyar mencapai 14,07 persen. Sedangkan, di Provinsi Jateng mencapai 14,98 persen. Terakhir, di tingkat nasional mencapai 11,66 persen”.[9]

3.2. Perkembangan Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Perkembangan persentase penduduk miskin Indonesia selama empat dekade menunjukkan tren yang menurun. Selama periode 1976-1996, melalui pertumbuhan ekonomi yakni dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7 persen per tahun, Indonesia telah berhasil mengurangi persentase penduduk miskin yang mencapai 40,1 persen pada pertengahan 1976 hingga hanya mencapai 11,3 persen pada tahun 1996. Gambar 3 dan Tabel 2 juga menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan menurun secara konsisten selama periode 1976-1996 dengan tren penurunan yang cukup tajam. Penurunan persentase penduduk miskin di daerah perdesaan lebih cepat bila dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Pada tahun 1976, jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan mencapai 44,2 juta orang atau sekitar 40,4 persen dari total penduduk perdesaan, jumlah ini kemudian menurun secara drastis pada tahun 1993: jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan turun menjadi 17,2 juta orang atau sekitar 13,8 persen dari total penduduk perdesaan. Sebuah capaian yang mengesankan, ini artinya dalam kurun waktu 27 tahun, jumlah penduduk miskin di pedesaan berkurang sebesar 27 juta orang.[10] Sedangkan perkembangan pada tahun 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin per Maret 2013 mencapai 28,07 juta atau 11,37 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengalami penurunan 0,52 juta dibandingkan dengan penduduk miskin per September 2012 sebesar 28,59 juta (11,66) persen. Beberapa faktor penyebab turunnya angka kemiskinan antara lain inflasi berdasarkan komponen umum secara kumulatif relatif rendah, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat serta stabilnya harga beras. Secara keseluruhan garis kemiskinan meningkat dari Rp 259.520 per kapita per bulan pada September 2012 menjadi Rp 271.626 per kapita per bulan pada Maret 2013. Selama periode September 2012-Maret 2013, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,18 juta orang (dari 10,51 juta pada September 2012 menjadi 10,33 juta pada Maret 2013). Sedangkan di daerah pedesaan berkurang 0,35 juta (dari 18,09 juta pada September 2012 menjadi 17,74 juta pada Maret 2013). Berturut-turut, pada 2009, BPS mencatat jumlah penduduk miskin 32,53 juta atau 14,15 persen, kemudian pada 2010 31,02 juta atau 13,33 persen, Maret 2011 30,02 juta atau 12,49 persen, September 2011 29,89 juta atau 12,36 persen dan Maret 2012 29,13 juta atau 11,96 persen. [11]

Secara rinci BPS mencatat  selama periode September 2013 hingga maret 2014 jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun dari sekitar 10,68 juta orang  menjadi sekitar 10,51 juta orang. Sementara masyarakat miskin di daerah pedesaan turun dari 17,92 juta orang menjadi sekitar 17,77 juta orang.[12]

3.3.               Kendala dan Penanggulangan dalam Mengurangi kemiskinan di Indonesia.

Ø     Penanggulangan dalam Mengurangi Kemiskinan di Indonesia
              Kemiskinan menjadi isu prioritas pembangunan mulai dari global, nasional dan daerah. Baik di perkotaan maupun di daerah pedesaan, kemiskinan masih saja dapat terlihat oleh kasat mata. Dan program penanggulangan atau dapat disebut pengentasan kemiskinan menjadi kajian besar, karena di Indonesia masalah kemiskinan sudah melekat dan menjadi pembahasan utama tersendiri.
              Penanggulangan kemiskinan tersebut diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Perpres nomor 15 tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Permendagri nomor 42 tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) provinsi dan TKPK Kabupaten Kota/Kabupaten.[13] Program-program kemiskinan dibagi menjadi 4 (empat) untuk mempertajam fokus pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan yaitu:
1.      Program Bantuan Sosial dan Jaminan Sosial, yang dilaksanakan dengan tujuan mengurangi beban masyarakat dan keluarga miskin dalam pemenuhan kebutuhan dasar melalui peningkatan akses pelayanan dasar antara lain melalui makanan, kesehatan dan pendidikan.
2.      Program Pemberdayaan Masyarakat (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNPM) yang dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas, kemandirian dan pemberdayaan masyarakat dalam proses pembangunan.
3.      Program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang dilaksanakan dengan tujuan membantu usaha mikro dan kecil untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas usahanya agar kehidupan masyarakat miskin semakin stabil dan pendapatan meningkat.
4.      Program Pro Rakyat yang dilaksanakan dengan tujuan melengkapi berbagai program dan kegiatan yang telah dijalankan melalui 3 klaster program penanggulangan kemiskinan dan membantu kebutuhan masyarakat yang berpenghasilan rendah dan termajinalkan.[14]
Dari semua program penanggulangan itu, bagi negara pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan bisa dilakukan melalui pembangunan, baik institusi maupun manusia itu sendiri. Di antaranya membangun sistem pendidikan yang mencakup berbagai kalangan.[15]


Ø  Permasalahan yang Dihadapi dalam Program Penanggulangan Kemiskinan
Beberapa permasalahan yang masih menjadi beban dalam rangka mengentaskan kemiskinan hingga tahun 2006 antara lain:
1.      tingginya tingkat inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Kenaikan harga BBM memicu naiknya tingkat biaya produksi dan distribusi barang serta jasa, sedangkan tingkat pendapatan masyarakat tetap, maka itu berarti terjadi gejala penurunan pendapatan.
2.      belum meratanya program pembangunan, khususnya di pedesaan, luar pulau Jawa, daerah terpencil, dan daerah perbatasan.
Secara presentase terhadap jumlah penduduk di daerah ini, kemiskinan diluar pulau Jawa termasuk Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
3.      masih terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar, seperti akses pendidikan layak, pelayanan kesehatan, dan terpenuhinya kebutuhan gizi yang memadai untuk kesehatan, terpenuhinya kebutuhan tempat tinggal yang layak.
4.      masih besarnya jumlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin, baik karena guncangan ekonomi, bencana alam, dan juga akibat kurangnya akses terhadap pelayanan dasar dan sosial.
5.      Kondisi kemiskinan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Fluktuasi berdampak besar pada daya beli masyarakat, upaya penanggulangan kemiskinan melalui stabilitas harga kebutuhan pokok harus dilakukan komprehensif dan terpadu.[16]
Selain itu masih banyak kendala yang dihadapi dalam penanggulangan kemiskinan dari 2005-2008, kendala tersebut diantaranya :
1.      Naiknya harga minyak dunia yang cukup besar telah mempersempit gerak fiskal
2.      Rangkaian bencana alam di beberapa daerah mengakibatkan beralihnya fokus pelaksanaan program pembangunan dan pertumbuhan.
3.      Banyaknya program multisektor dan regional yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan, ternyata masih sangat sektoral dan kurang terintegrasi sehingga mengakibatkan rendahnya efektivitas dan efisiensi program.
4.      Pemahaman dan kemampuan pemda untuk melakukan sinergi terhadap program masih beragam dan belum optimal.
5.      Terbatasnya sumber pendanaan bagi masyarakat miskin dan masih rendahnya kapasitas serta produktivitas usaha untuk memperluas kesempatan kerja.[17]
Dari berbagai permasalahan, upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kemiskinan sangat bergantung pada pelaksanaan dan pencapaian, dibutuhkan sinergi dan koordinsi program pembangunan di berbagai sektor. Dan kenyataan hingga saat ini masih terjadi kemiskinan yang melilit di Indonesia, maka diperlukan juga kerja keras dari semua pihak untuk menanggulangi kemiskinan yang nantinya menjadi tanggung jawab bersama, baik instansi pemerintahan, instansi swasta maupun masyrakat pada umumnya.




BAB IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Masalah kemiskinan di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan cukup serius penanganannya, butuh kesadaran dan kemauan diri yang keras dari masyarakat untuk memperbaiki taraf kehidupan, dan bagi pemerintah butuh ketulusan dan keseriusan hati untuk membantu rakyat Indonesia yang sebagian besar masih dibawah garis kemiskinan. Sehingga semua penanganannya itu harus berlangsung secara menyeleruh dengan suatu strategi yang mengandung semua aspek dan perilaku manusia kemudian ditunjang oleh tindakan sosial dan politik yang nyata.
4.2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran. Menurut pribadi penulis, sebagai warga Indonesia, hendaknya seluruh aspek baik dari masyarakat, pemerintah, dan lembaga lainnya bekerja sama membuat strategi untuk menanggulangi kemiskinan, setidaknya untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Dan akhir kata, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan maka Saran dan kritik yang membangun dalam makalah ini, sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.


DAFTAR PUSTAKA
Setiadi, M. Elly dan Usman Kolip. (2011)Pengantar Sosiologi. Jakarta, Kencana.
Gilbert, Alan dan Josef Gugler. (1996). Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. Yogyakarta.
Abdulsyani. (2012). Sosiologi Skematika,Teori, dan Terapan. Bumi Aksara. Jakarta.
Soelaeman, M. Munandar (1986). Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial.  Refika Saditama. Bandung.
Soetomo. (2010). Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya, Pustaka belajar, Bandung.
SITUS WEB :
SITUS KORAN ONLINE :
Iris Gera, “Kemiskinan di Indonesia Menurun”(2014, 20 Oktober). diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/bps-tingkat-keliskinan-indonesia-menurun/1948483.html pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5:29 PM.
Solopos,”Angka Kemiskinan versi BPS dan Pemkab Berbeda” (2014, 9 Oktober) diakses dari http://www.solopos.com/2014/10/09/kemiskinan-di-karanganyar-angka-kemiskinan-versi-bps-dan-pemkab-berbeda-kok-bisa-542712  8 Oktober 2014 pada pukul 5:49 PM
Muhammad Iqbal, Republika Online “Tingkat Kemiskinan 2013 akan lebih tinggi dari Target Pemerintah” (2013, 20 Maret) http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/08/18/mrpo4p-tingkat-kemiskinan-2013-akan-lebih-tinggi-dari-target-pemerintah Pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5:40 PM.







[1] Abdulsyani. Sosiologi Skematika,Teori, dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta, 2012.
[2]Sugeng Widodo, “Info Peta Daerah”, diakses dari http://infopetadaerah.blogspot.com/2010/07/ada-14-kriteria-yang-dipergunakan-untuk.html tanggal 22 Oktober 2014 pukul 7:32 AM.
[3] M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Refika Saditama, Bandung, 1986. Hal. 228.
[4] Elly M Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, Kencana, 2011. Hal. 794-795.
[5]Ibid. Hal. 809.
[6] Soetomo, Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya, Pustaka belajar, 2010, Hal 308.
[7] Elly M Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, Kencana, 2011. Hal. 794-795
[8] Iris Gera, “Kemiskinan di Indonesia Menurun” diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/bps-tingkat-keliskinan-indonesia-menurun/1948483.html pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5:29 PM.
[9] Diakses dari Koran online Solopos, 8 Oktober 2014 pada pukul 5:49 PM.
Pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5.18 PM.
[12] Iris Gera, “Kemiskinan di Indonesia Menurun” diakses dari http://www.voaindonesia.com/content/bps-tingkat-keliskinan-indonesia-menurun/1948483.html pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5:43 PM.
[13] Diakses dari Koran online Solopos, 8 Oktober 2014 pada pukul 5:49 PM.
Pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 5:52 PM.
[16] Elly M Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, Kencana, 2011, Hal. 806-807.
[17] Ibid. Hal 808.

0 komentar:

Posting Komentar

 
My My My Blogger Template by Ipietoon Blogger Template