ini dia part two dari cerita lanjutan "PYTHERROPHIA"
Jangan sampai terlewatkan…… ;D
Pytherrophia
Part Two
by Sofie Medina
Cerita Fiksi
Part Two
by Sofie Medina
Cerita Fiksi
Sehabis perjanjian itu,
Pytherrophia terasa jadi sungguh tenang. Aku dibawa Gabrildon ke suatu rumah
yang unik milik professor incab dengan bagian
luar rumahnya seperti rumah tarzan tetapi saat masuk kedalam sangat menakjubkan,
peralatan dan teknologi canggih ada disana, berbagai buku bahkan buku ilmu
sihir tersusun rapi diperpustakaan miliknya. aku sampai tidak bisa menutup
mulut dan tak bisa berkata apa –apa saat diajak masuk kedalam. Professor Incab
ini bisa dibilang leluhur negeri Pytherropia, dia ilmuwan dan sejarawan juga
penyihir yang baik tentunya. Ia mengetahui tentang apapun, termasuk seluk –
beluk saat Pytherropia belum menjadi negeri sebesar ini, saat kedua pohon
raksasa itu masih menjadi tante dan paman Gabrildon. Ya, dulu memang mereka
tante dan paman Gabrildon namun percobaan professor Incab yang gagal mengubahnya
menjadi dua pohon raksasa. Karena professor Incab belum bisa mengubah wujud
mereka kembali, jadi Professor menyarankan kepada mereka untuk setiap tahunnya
memakan manusia yang datang ke taman Berry agar mereka dapat bertahan hidup sampai
ratusan tahun. Maka, dari itu professor Incab dibenci dan ditakutkan oleh
seluruh rakyat negeri Pyterrophia dan akhirnya professor membangun rumahnya
seperti ini. Panjang lebar Gabrildon menjelaskan semua hal itu kepadaku saat
diperjalanan menuju rumah professor Incab tadi. Negeri ini memang sangat
menakjubkan, hal yang terjadi disini sangat aneh, bahkan ini semua tidak masuk
akal sepertinya, jawabku setelah ia berbicara panjang lebar. Dia hanya tersenyum manis, senyumannya saat
itu mengingatkan aku pada seseorang tetapi lagi – lagi aku tak tau siapa itu. Sampai
detik ini aku tak percaya keberadaanku, berdiri dihadapan professor Incab aku
tak percaya. Sungguh aneh dan menakjubkan, aku seperti bukan aku rasanya, dan
ini semua seperti “mimpi”.
MIMPI?
“kakak…………bangun……..mama………kakak
kok ga bangun bangun sih?” suara itu suara siapa lagi, aku makin bingung dan
kenapa sekarang jadi gelap dan wajahku terasa sangat kaku.
BYUUURRRR………aku kaget terbelalak
bangun dari tempat tidur. Ternyata adikku, Mela menyiramku dengan segayung air.
membuat masker diwajahku luntur saat ku melihat ke kaca yang tepat berada
didepan tempat tidur, bahkan membuat tempat tidurku setengah basah. Mela
tertawa, aku langsung memelototinya dan melemparnya dengan guling, ia langsung
lari keluar kamar sambil berteriak “mamaaa”. Sesegera mungkin masuk kamar
mandi, menyalakan shower, dan berdiam diri tepat dibawah shower mencoba
mengingat apa yang terjadi tadi saat aku
terlelap tidur. Itu mimpi ternyata? Mimpi apa itu? Sangat aneh? . Aku
mencoba mengingat kembali namun yang kuingat hanya… entahlah aku tak bisa
mengingat apa – apa.
Sehabis mandi, aku melihat jam
di dinding, waktu menunjukkan pukul 05.00 sore. Aku mencoba membaringkan
tubuhku kembali dikasur, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi dengan
mimpi ku tadi. Rasa ingin kembali ke mimpi tersebut sangat besar, namun untuk
mengingat mimpi apa yang dialami begitu sulit.
Bersenda gurau dengan keluarga
hal yang paling terindah, besok kehidupan disekolah yang selalu membuat ku
bosan akan dimulai lagi. Mama menyuruhku tidur jangan larut malam, karena nanti
pasti aku akan susah bangun. Segera cuci kaki, menggosok gigi dan aku pun
segera masuk kamar dan pergi tidur, menuruti semua perkataan mama dengan
terpaksa sebenarnya karena kalau tidak dituruti urusannya pasti berujung
panjang. Sebelum tidur, dari fikiran bawah sadarku ini selalu melayang ke hal –
hal imajinasi yang sebenarnya tak mungkin terjadi didunia nyata. Contohnya saja
aku pernah berkhayal, bila aku ditembak seorang kapten basket seperti Gabril
disekolah, aku bingung pasti akan berkata apa atau berkhayal berkencan dengan
Jang geun suk seorang artis korea kesukaanku. Memang aneh bukan hal itu, namun
aku tetap menyukainya.
Ada yang mengoyang – goyangkan
badanku, aku merasakannya dan hal ini menggangu tidurku. Aku mencoba membuka
mata, melihat daerah sekeliling dengan malas, lagi – lagi aku kaget ksatria dan
seorang professor berada disampingku.
“hei…kau sudah bangun? Sepertinya
kau kelelahan ya? Kau tidur sangat pulas..lihat waktu kita tinggal 2 hari lagi,
ayo cepat kita cari serbuk kuning itu, aku sudah tau bagaimana cara menuju
kesana…ayooo !!” usai Gabrildon, yang namanya tiba – tiba aku ingat,
mengucapkan hal itu, dia langsung menarik aku keluar menuju tempat serbuk
kuning berada. Professor Incab mengucapkan selamat berjuang dan hati – hati
dengan kalung yang ada dileher kami masing – masing. Gabrildon menjelaskan,
bahwa serbuk kuning itu berada di puncak menara taman tempat kedua pohon
raksasa berada, namun untuk menuju kesana kami harus menunggu Com dan Batt
tertidur pulas. Ternyata serbuk kuning itu berkhasiat untuk mengembalikan
seseorang ke wujud aslinya jika terkena sihir.
“pantas saja ya, Com dan Batt
menyetujui hal itu karena aku yakin mereka ingin kembali wujudnya seperti kamu
Gabrildon. Aku yakin mereka kangen dengan keluarga kerajaan bahkan dengan
makanan yang sewajarnya mereka makan, iya tidak ? “ jawabku dengan semangat 45.
“ya…aku rasa begitu, oh ya, nama
kamu disini Momoly ya? Setiap orang asing yang datang ke negeri Pyterrophia
akan kuberi nama, kau pasti bukan dari negeri ini ya kan?”
Aku mengangguk lalu tersenyum,
dan tanpa banyak bertanya apa artinya Momoly, aku langsung menyetujui nama itu.
Akhirnya kami sampai di taman tempat Com dan Batt berada, rupanya kami sangat
tepat datang kesini karena mereka sedang tidur. Ciri dari mereka tidur adalah
wujud mereka tidak kelihatan sebagai pohon tua yang menyeramkan, dan taman ini kelihatan
bersih dan indah. Disamping bangku dan lampu taman terdapat menara yang sangat
tinggi. Rupanya kami berdua harus menaiki menara itu. Aku membaca peringatan
yang tertera didepan menara tersebut, katanya yang boleh menaiki menara ini
hanya dua pasangan yang mempunyai cinta tak kasat mata. Apa itu cinta tak
kasat mata? Apa aku dan Gabrildon harus mempunyai rasa suka? Tentu aku menyukai
Gabrildon, karena dia tampan, namun apa Gabrildon menyukai diriku ? ah, mikir
apa sih aku.
Sebelum ayunan ajakan tangan
Gabrildon mengajakku masuk ke dalam menara, aku menghentikannya. Aku bertanya,
soal peringatan apa itu dan ia menjawab itu hanya peringatan buat anak kecil
saja. Jelas saat dia bilang seperti itu aku marah. Aku lepaskan mentah – mentah
genggaman lembut tangannya.
“lihat dulu peringatan itu
Gabrildon, peringatan itu pasti bukan semata – mata dibuat untuk menakuti orang
yang masuk ke menara ini. Lihat dulu, kita baca seksama!” aku memperingatkannya
untuk tidak berbuat ceroboh namun iya membantah ajakanku ternyata. Sebelum ku
menurutinya lagi aku membaca kembali sekilas peringatan itu.
Cinta tak kasat mata datang saat
kamu berada ditempat tergelap dimenara ini! percayalah pada hati dan jangan
percaya oleh fikiran – fikiran yang nantinya akan menyesatkan!semoga berhasil
Aku tak tau apa maksudnya, namun
kata – kata tersebut akan kuingat sebagai bekal jika terjadi apa – apa di dalam
menara nanti. Aku menggandeng lengan Gabrildon, didalam menara ini seperti
didalam mercusuar, namun bedanya setiap anak tangga disini terdapat tulisan –
tulisan, entah apa arti tulisan tersebut. Namun menurut Gabrildon, itu
bercerita tentang sejarah menara ini. Sudah berapa tangga yang kami naiki
daritadi namun tidak sampai – sampai ke puncak menara. Untung saja dimenara ini
cahayanya cukup terang, jadi aku enggak perlu menghalau rasa ketakutan.
“aku capek, kita beristirahat
dulu di sana?” kata Gabrildon sambil menunjuk sebuah pintu yang sepertinya itu
kamar. Dipintu tersebut bertuliskan “kamar istirahat bagi pasangan cinta tak
kasat mata”. Aku sontak melirik ke Gabrildon setelah membaca tulisan tersebut.
Gabrildon hanya menaikkan satu alisnya dan menggelengkan kepalanya lalu ia
menarik ku masuk ke kamar tersebut. Kesan pertama melihat kamar itu, kaget. Aku
tak menyangka dimenara ini ada kamar yang begitu besar, desainnya seperti kamar
pengantin saat tokoh barbie sudah menikah dengan pangeran. Aku langsung
melepaskan pegangan tangannya, dan langsung lari riang seperti anak kecil yang
kegirangan mendapatkan hadiah dan menghempaskan diri ke tempat tidur yang mewah
ini. Gabrildon mengikuti tingkahku, kami berdua sama – sama tertawa, sama-sama
berbaring ditempat tidur ini dengan kaki menggantung. Dan saat aku akan bangun
dari tempat tidur dan ingin melihat isi lain kamar ini, Gabrildon menarik
tanganku membuat badan ini terhempas kembali ketempat tidur, aku tertawa dan
menatap si ksatria yang tengah juga menatap balik, kali ini tatapannya tajam.
Kami saling bertatapan, tak lama sentuhan lembut jemari Gabrildon mendarat
dipipiku, membuatku terenyuh, membuat hati ini berdetak, membuat denyut jantung
ini tak bisa terkontrol.
“aaaa….sakit….” kalung yang
kupakai tiba – tiba saja mencekik leherku, membuat Gabrildon dan aku sadar
kalau kita bukan sedang melaksanakan malam pertama melainkan sedang dalam
situasi genting, dimana nyawakulah taruhannya.
“kalung ini rupanya
memperingatkan kita, aku tau maksud dari cinta tak kasat mata itu Momoly..ya,
ya, cinta tak kasat mata itu berarti kita tak boleh saling mencintai, saling
suka, ya kan?” tanya Gabrildon, nadanya begitu bersemangat.
“aku rasa bukan itu maksudnya,
kalau tak boleh saling mencintai kenapa dinamakan cinta?pasti bukan itu
maksudnya.” Sekarang kami benar – benar bingung, dan duduk di sebuah kursi
sambil sama – sama berfikir. Keadaan disini sangat sunyi, aku tak mendengar
suara apapun kecuali kalau Gabrildon bicara atau aku yang bicara, kami juga
tidak tau pukul berapa sekarang, apa sudah malam, benar – benar buta keadaan.
Tiba – tiba aku merasakan bosan dan lapar, aku menyenggol badan dia, ia pun
mengeluarkan bekal yang dibawanya dari tas, hanya ada roti dan minuman. Kami
saling berbagi makanan dan minuman sambil berbincang – bincang, dan sesekali
tertawa. Sepertinya Gabrildon kelelahan, ia tidur lebih dulu. Entah kenapa aku
belum mengantuk, aku pun mencoba melihat – lihat isi kamar ini lebih mendetail,
membuka isi lemari, dan menemukan sebuah buku yang menarik perhatianku. Aku
langsung melempar buku aneh tersebut saat ku lihat ia mempunyai mata, mulut dan
hidung yang nyata seperti manusia. Dan membangunkan Gabrildon.
“apaaa sih? Ada apa? “ tanyanya
marah – marah. Aku menunjuk ketakutan ke arah buku tersebut. Gabrildon
mendekati buku tersebut. Dan ia mulai memperhatikan detail, dan saat mata
hidung dan mulutnya muncul, ia mundur kaget dari buku tersebut, aku juga ikut
kaget.
“tunggu…sepertinya aku
mengenalmu? Kakak ilbedron? “tanya Gabrildon dengan kembali mendekati buku aneh
tersebut.
“YA YA KAU MENGENALIKU
GABRILDON..HAHA” suara itu, seperti suara Batt pohon raksasa itu, aku ingat
jelas suaranya. Lalu Gabrildon memeluk buku tersebut dan tertawa bahagia.
Ternyata keherananku telah
terbayar oleh semua penjelasan panjang lebar kak Ilbedron, ternyata dia itu
terkena kutukan kakek tua yang berambut putih saat ia sama seorang kekasihnya
sedang memadu cinta ditaman ini, kekasihnya entah dibawa kemana sedangkan ia
disihir menjadi buku tua yang kemudian disimpan dilemari kamar, menara. Kak
Ilbedron merupakan kakak kelas yang sangat dekat dengan Gabrildon di sekolah
ilmu sihirnya waktu dulu, sekolah itu didirikan professor Incab yang
diperuntukkan gratis bagi keluarga ataupun sanak kerajaan. Lalu menurutnya,
ditaman ini ada penunggu yang jahat yaitu seorang kakek tua. Tetapi setau ku
bukankah penunggu yang jahat taman ini kedua pohon raksasa itu. Teka – teki
misteri negeri Pyterrophia makin membuat penasaran. Sebenarnya siapa yang benar
– benar jahat di negeri ini, aku jadi tidak yakin kalau yang jahat adalah kedua
pohon raksasa itu. Atau…